Cikalo


« | Beranda | »

EVALUASI; LURUS N7, yang posting di group pelurusan adat minang berdasarkan abs-sbk.
BUNYI LURUS N7: Apakah dibolehkan/dibenarkan memberi nama Hewan/binatang pada manusia yang paling mulia ciptaan Allah pada manusia yang hidup di Sumatra Tengah Bagian Barat dengan kerbau menjadi Minagkabau, Luruskan.
Pertama kali sama juga dengan Lurus-Lurus yang lainnya seperti halilintar siang bolong, kok ada orang yang menulis se-olah MinangKabau itu adalah Kabau, hewan dan apa buruknya pakai nama Minagkabau, toh selama ini asyoi2 saja. Namun makin sering di sebut makin terasa kabaunya, maka banyak mendiskusikan dari mana datangnya Minangkabau itu. Ada yang membawa –bawa ke segi Islam dengan mengemukakan Bahasa Arabnya yang mirip2 dengan kata Kabau, tapi ada pula yang mematahkan bahwa Minang Kabau itu sudah dan berkembang sebelum Islam masuk ke Tanah Sumatra Barat itu. FACEBOOKERS mencari dari Tambo, hikayat dan secajarah, termasuk penulis yang meng klic, Mikipedea, ternyata ada artikel “Minagkabau People”, dalam uraiannya disebutkan Minangkabau terdiri dari dua suku kata “Menang”(Victorious) dan “kerbau”(Buffalo).Dengan kejadiaan sangketa perbatasan antara MinangKabau dan neighbouring Prince, tapi tidak mau diselesaikan dengan peperangan, maka ditempuh adu kabau itu, cerita ini sudah sangat diketahui urang Awak.Urang Awak menang. Penulis berseloroh atau bercanda:” jangan2 gara neighbouring Prince itu kalah maka dibilang “aaa ambiak banalah di ang Minangkabau itu” dan sekalian dibilang juga barangkali “sekalian saja keturunan kamu dari Ibu”, karena menurut lagenda yang ditulis Wikipedea itu dia adalah “Prince”(Ratu), sehingga terus lah sampai sekarang urang Awak di panggil Minangkabau dan sistim kesukuannya menurrut garis keturunan Ibu(Matriachat), sekali lagi ini hanya renungan penulis, tidak ada bukti2 ilimiah, tambo, sejarah atau pendudung lainnya, belive it or not, please. Diskusi mengnenai ini masih pajang belum ada tanda2 mereda, namun sudah banyak yang kalau menulis Minangkabau cukup sampai di Minang saja. Menurut penulis, untuk apa bercutat melihat kebelakang, apa tidak lebih baik menoleh kedepan, mau nggak bergaul secara setara dengan masyarakat lain tanpa melibatkan nama Karbau dan sebagainya serta mengikuti apa yang ada didunia pada umunya garis keturunan dari Bapak(patriachat).
Namun kalau hendak memilih “hanya satu2 didunia” boleh2 saja, sepanjang dibenarkan oleh Syriah Islam, Al Qur’an dan Hadis Rasulullah s.a.w.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.